Info Teknologi

PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU KEDELAI

Administrator | Jumat, 13 Mei 2016 - 15:23:44 WIB | dibaca: 2634 pembaca

pengelolaan tanaman kedelai bptp pertanian sumsel

Pengelolaan Tanaman terpadu (PTT) kedelai bukanlah suatu paket teknologi produksi kedelai, melainkan suatu pendekatan dalam produksi kedelai agar teknologi dan atau proses produksi yang diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Beberapa tahapan pendekatan yang harus ditempuh dalam melaksanakan PTT kedelai antara lain :

    Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya
    Pemecahan masalah perioritas
    Efisiensi penggunaan input
    Partisipasi petani
    Kerjasama antar instansi / kelembagaan.


Teknologi yang diterapkan dalam PTT kedelai harus disesuaikan dengan potensi dan permasalahan biofisik lahan, sosial-ekonomi masyarakat, dan kelembagaan di setiap lokasi. Komponen teknologi yang dirakit dalam paket teknologi PTT ada yang bersifat mutlak dan bersifat pilihan.

I. Komponen teknologi yang mutlak harus dilaksanakan antara lain:

A. Varietas Unggul

    Varietas kedelai dengan ukuran biji kecil (< 10 g /100 biji) antara lain: Tidar, Petek dan Lumajang Bewok
    Varietas kedelai dengan ukuran biji sedang (10 – 12 g /100 biji) antara lain: Pangrango, Kawi, Leuser, Manglangyang, Kaba, Sinabung, Ijen, Slamet, Sindoro, Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai, Lawit, dan Menyapa
    Varietas kedelai dengan ukuran biji besar (> 12 g /100 biji) antara lain: Bromo, Argomulyo, Burangrang, Anjasmoro, Mahameru, Baluran, Merubetiri, Panderman, Gumitir dan Argopuro.

   B. Benih Berkualitas / Bermutu Syarat benih berkualitas / bermutu adalah:

    Murni dan diketahui nama varietasnya
    Memiliki daya tumbuh tinggi (> 85 %) dan vigor baik,
    Diperoleh dari tanaman yang telah masak, sehat, dan tidak terkena penyakit virus
    Biji sehat, bernas, mengkilat, tidak keriput, dan tidak terinfeksi cendawan dan bakteri,
    Bersih, tidak tercampur biji tanaman lain atau biji rerumputan.


C. Saluran Drainase / Irigasi

Kedelai merupakan tanaman yang peka terhadap cekaman air, khususnya kelebihan air. Kelebihan air yang umum dihadapi pada pertanaman kedelai pada musim hujan dan MK 1 dilakukan dengan membuat saluran drainase pada bidang tanam dan atau di sekeliling petakan.

D. Pengendalian Gulma

Penurunan hasil kedelai akibat kompetisi dengan gulma berkisar 18 – 68 %. Gangguan gulma umumnya lebih besar pada musim hujan dan MK 1 baik pada lahan kering maupun sawah, dikarenakan tersedianya air untuk mendukung pertumbuhan gulma. Permasalahan gulma akan makin serius pada daerah-daerah yang relatif kekurangan tenaga kerja efektif. Penyiangan dapat dilaksanakan secara manual (cangkul, sabit) maupun dengan herbisida.

E. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kedelai berlandaskan strategi penerapan PHT.
Prinsif operasional dalam PHT adalah:

    Budidaya tanaman sehat (tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama)
    Pelestarian musuh alami (parasit, predator dan patogen serangga) merupakan faktor pengendali hama penting yang perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi hama dilapangan.
    Pemantauan ekosistem secara rutin dan menyeluruh, sebagai dasar analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan.
    Petani sebagai ahli PHT. Petani sebagai pengambil keputusan dan keterampilan dalam menganalisis ekosistem serta mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan dasar PHT.


Hama utama tanaman kedelai meliputi:
Lalat Bibit, Ulat Pemakan Daun (Ulat Grayak, Ulat Jengkal, Ulat Heliotis sp, Ulat Penggulung Daun), Pengisap Polong (Riptortus linearis, Nezara viridula, dan Piezodorus hybneri), Penggerek Polong, Penggerek Batang, Kutu Kebul, dan Kutu Daun.

Pengendaliannya Hama dapat dilakukan:

    Tanam serempak
    Rotasi tanaman bukan inang hama
    Varietas toleran
    Pemberian mulsa setelah padi sawah
    Daerah endermis hama perlu dilakukan perlakuan benih (insektisida Carbosulfan)
    Penyemprotan Insetisida bila populasi hama telah melebihi ambang kendali.


Penyakit utama tanaman kedelai yang disebabkan oleh Bakteri meliputi: Penyakit Karat Daun, Bakteri Pustul, Bercak Kuning, Rebah Kecambah, Busuk Daun/Polong, Antraknose, Hawar Batang, Bercak Biji Ungu.
Sedangkan yang disebabkan oleh Virus meliputi: Soybean Stunt Virus (SSV), Soybean Mosaic Virus (SMV), Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV), Peanut Stripe Virus (PStV) dan Bean Yellow Mosaic Virus (BYMV).

Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan:

    Menanam varietas tahan
    Menanam benih bebas penyakit
    Memusnahkan sisa tanaman yang terinfeksi penyakit
    Menggunakan bakterisida / fungisida yang efektif


II. Komponen teknologi pilihan antara lain:

A. Pengelolaan Hara / Pemupukan

Pada lahan kering suboptimal seperti pada lahan kering masam bertanah Podsolik Merah Kuning (Ultisol) yang banyak di jumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Tindakan ameliorasi lahan (pengapuran,pemberian bahan organik), serta pemupukan N, P dan K sangat nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai. Kebutuhan hara N, P dan K untuk tanaman kedelai pada tingkat hasil rata-rata nasional 2004 sebanyak (63,7; 9,1 dan 27,3 kg/ha). Secara alamiah tanaman kedelai dapat bersimbiose dengan bakteri penambat N-udara (Rhizobium) dalam bintil akar yang mampu menyediakan N bagi tanaman dalam jumlah yang banyak, melalui mekanisme ini 40 – 70 % kebutuhan N tanaman kedelai dapat dipenuhi.

B. Panen dan Pasca Panen

Panen hendaknya dilakukan pada saat mutu benih mencapai maksimal, yang ditandai bila sekitar 95 % polong telah berwarna coklat atau ketitaman (warna polong masak) dan sebagian besar daunnya sudah rontok. Panen dilakukan dengan cara memotong pangkal batang atau dicabut. Berangkasan kedelai hasil panen langsung dikeringkan (dihamparkan) di bawah sinar matahari dengan ketebalan sekitar 25 cm selama 2 – 3 hari (tergantung cuaca) menggunakan alas terpal plastik, tikar atau anyaman bambu. Pengeringan dilakukan hingga kadar air benih mencapai sekitar 14 %. Berangkasan kedelai yang telah kering (kadar ir sekitar 14 %) secepatnya dirontok. Perontokan dapat dilakukan secara manual (geblok) atau secara mekanis menggunakan threser (pedal threser atau power threser). Apabila digunakan power threser kecepatan silender perontok disarankan tidak lebih dari 400 rpm (putaran per menit). Biji hasil perontokan perlu dibersihkan dari kotoran (potongan batang, cabang tanaman, dan tanah). Pembersihan dapat dilakukan menggunakan tampi (secara manual) atau menggunakan blower (secara mekanis).