Info Teknologi

MITIGASI GAS RUMAH KACA DALAM INTEGRASI TANAMAN TERNAK

Administrator | Selasa, 15 Juni 2021 - 16:02:07 WIB | dibaca: 34 pembaca

Dok. Joni Karman/BPTP Sumsel

Limbah hewan dalam bentuk pupuk kandang merupakan sumber nutrien dan bahan organik yang berharga untuk digunakan dalam pemeliharaan kesuburan tanah dan produksi tanaman. Penelitian dengan hewan menunjukkan bahwa 55-90% kandungan nitrogen (N) dan fosfor (P) dari pakan ternak diekskresikan dalam feses dan urin yang biasanya digunakan sebagai pupuk kandang (Ogbuewu et al. 2012). N yang terkandung dalam kotoran sapi dapat dibagi menjadi dua kumpulan umum: (1) N endogen yang terdiri dari N mikroba; sel-sel yang mengelupas dari rumen, usus dan hindgut; dan sekresi enzimatik yang tidak tercerna, dan (2) N pakan yang tidak tercerna  terutama terdiri dari komponen dinding sel yang tidak tercerna, lignifikasi yang berasal dari tanaman. N endogen dan N pakan yang tidak tercerna dalam feses dapat memiliki banyak efek pada siklus N tanah. N endogen feses cepat termineralisasi dan tersedia untuk tanaman, N pakan pada feses tidak tercerna dan tidak tersedia, dan sepertinya menjadi komponen stabil dari bahan organik tanah.

 

Meskipun banyak penelitian yang membuktikan bahwa limbah ternak yang sudah difermentasi, baik limbah padat maupun limbah cair, memberikan banyak manfaat dalam rangka meningkatkan produksi dan income petani, namun aplikasinya di tingkat petani belum berjalan dengan optimal. Ketersediaan kompos yang terbatas dan kebutuhan kompos yang cukup banyak untuk mensubstitusi pupuk anorganik membuat aplikasi kompos secara optimal tidak sesuai dengan income yang didapatkan petani. Selain hal tersebut, pengetahuan petani yang kurang mengenai pemanfaatan limbah cair, baik sebagai pupuk atau sebagai bio-enhancer, membatasi aplikasi limbah cair di tingkat petani. Dengan sistem pertanian bioindustri yang mengintegrasikan budidaya tanaman dengan ternak, diharapkan praktik budidaya pertanian ramah lingkungan dapat diterapkan lebih baik dari kondisi sebelumnya. Sehingga produksi dapat dipertahankan dan kesehatan serta kesuburan tanah juga dapat dipelihara.

 

Limbah ternak menghasilkan amonia yang dapat menjadi polutan potensial yang menyebabkan eutrofikasi sungai dan danau yang serius, ditandai dengan konsentrasi nutrisi yang tinggi yang menciptakan ketidakseimbangan ekologis dalam sistem air yang mendukung pertumbuhan alga dan tanaman air tingkat tinggi yang tidak normal  Hal tersebut mengurangi kadar oksigen dalam air dan memiliki implikasi serius pada kelangsungan hidup organisme akuatik dan, akibatnya, pada pasokan makanan dan keanekaragaman hayati. Limbah ternak juga merupakan sumber dari bau busuk yang berasal dari bangunan ternak, penyimpanan dan penerapan kotoran hewan di lapangan. Intensitas malodour seringkali tidak dapat diterima, terutama bagi tetangga di sekitar area perumahan. Secara global, konsentrasi metana gas rumah kaca (CH4) di atmosfer telah meningkat sebesar 45% sejak tahun 1850. Peningkatan produksi ternak telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan konsentrasi metana gas rumah kaca dan telah diperkirakan bahwa fermentasi enterik ruminansia berkontribusi sekitar 13-15% dan limbah ternak 5% terhadap total emisi CH4 pada 1990-an. Pertanian diperkirakan telah berkontribusi hampir 80% pada emisi antropogenik N2O pada 1990-an (Ogbuewu et al., 2012).

 

Pemilihan jenis pakan akan sangat mempengaruhi sumbangan gas rumah kaca dari kegiatan peternakan. Pakan ternak ruminansia dapat berupa hijauan (rumput-rumputan) ataupun konsentrat/ransum. Salah satu cara menurunkan produksi CH4 dalam kegiatan peternakan dengan meningkatkan daya cerna pakan yaitu menambah jumlah konsentrat dalam pakan. Penambahan komposisi konsentrat pada pakan sapi akan diikuti kecenderungan penurunan gas metana bersumber dari pencernaan. data penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian 80% pakan konsentrat dapat menurunan konsentrasi gas metana dari pencernaan hingga 177 ppm atau 28.5% jika dibandingkan dengan hanya diberi pakan rumput benggala saja.  (Gustiar et al., 2014). Pakan basal/hijauan yang digunakan sebagai sumber serat yang umumnya diberikan pada ternak adalah jerami padi, rumput odot, rumput lapang, dan tunas tebu. Bahan-bahan pakan tersebut apabila dicerna dalam saluran pencernaan ternak ruminansia (rumen) akan mengeluarkan gas metana yang cukup besar. Bahan pakan lainnya yang diberikan berupa konsentrat, singkong dan ampas singkong. Ketiga bahan pakan tambahan ini termasuk ke dalam kelompok bahan pakan yang apabila dicerna dalam rumen menghasilkan gas metana yang rendah. Sehingga apabila bahan pakan tambahan ini dikombinasikan dengan pakan basal sumber serat dapat mengurangi pelepasan gas metana dari bahan sumber serat selama proses pencernaan dalam rumen (Nurhayati dan Widiawati, 2019). Herawati (2012) menyebutkan bahwa mitigasi dapat dilakukan diantaranya dengan meminimumkan metana yang dihasilkan ternak dengan berbagai cara antara lain mengkonsumsi bahan pakan berupa tanaman pakan, ramban atau limbah industry yang rendah emisi, mengkonsumsi suplemen atau memproses pakan hingga menurunkan produksi metana.

 

Jenis tanaman pakan sebagai mitigasi gas metana

Ramban

Leguminosa

Biji lerak (Sapindus rarak)

Gunakan 0,2 hingga 0,5% dalam konsentrat

 

Daun kedelai (Glycine max)

Gunakan 10% dalam campuran konsentrat

 

Bunga sepatu (Hisbiscus rosasinensis)

Gunakan 5% dalam campuran pakan hijauan

 

Daun Jarak pagar (Jatropha curcas)

Gunakan kurang 0,1% dari hijauan

 

Daun jambu biji (Psidium guajava)

Gunakan hingga 5% dalam campuran hijauan

 

Papaya (Carica papaya)

Gunakan 1-5% dalam campuran hijauan

 

Pisang (Musa paradisiaca)

Gunakan 10% dalam campuran hijauan

 

Daun singkong (Manihot esculenta)

Layukan untuk mengurangi kandungan HCN

Gunakan hingga 30% dalam campuran hijauan

Lamtoro (Leucaena leucocephala)

Gunakan 30% dalam campuran hijauan

 

Turi (Sesbania grandiflora)

Gunakan 20% dalam campuran hijauan

 

Kaliandra (Calliandra callothyrsus)

Layukan sebelum diberikan kepada ternak

 

Gamal (Gliricidia sepium)

Gunakan 30% dalam campuran hijauan

 

Centro (Centrosema pubescens)

Digunakan sebagai campuran hijauan

 

Stylo (Stylosanthes guyanensis)

Gunakan sebagai pakan hijauan hingga 50%

 

Kalopo (Calopogonium mucunoides)

Gunakan 30% dalam campuran hijauan

Sumber: Balitnak (2011) dalam Herawati (2012).

 

Daftar Pustaka

Gustiar, F., R. A. Suwignyo, Suheryanto, and Munandar. 2014. Reduksi Gas Metan (CH4) dengan Meningkatan Komposisi Konsentrat dalam Pakan Ternak Sapi. Jurnal Peternakan Sriwijaya. Vol. 3, No. 1, Juni 2014, pp. 14-24.

Herawati, T. 2012. Refleksi Sosial Dari Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca pada Sektor Peternakan di Indonesia. WARTAZOA Vol. 22 No. 1 Th. 2012. pp 35-45.

Nurhayati, I.S. dan Y. Widiawati. 2019. Mitigasi Gas Rumah Kaca Subsektor Peternakan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2019. DOI: https://dx.doi.org/10.14334/Pros.Semnas.TPV-2019-p.214-224.

Ogbuewu, I.P., V.U. Odoemenam, A.A. Omede, C.S. Durunna, O.O. Emenalom, M.C. Uchegbu, I.C. Okoli, and M.U. Iloeje. 2012. Livestock Waste and Its Impact on The Environment. Scientific Journal of Review  1(2): 17-32.

 

(Joni Karman, SSi., MP./Peneliti BPTP Balitbangtan Sumsel)