Info Teknologi

MENINGKATKAN PRODUKSI PERTANIAN DENGAN PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR)

Administrator | Senin, 17 Mei 2021 - 15:11:44 WIB | dibaca: 30 pembaca

Pertanian saat ini dihadapkan pada tantangan peningkatan produksi, sejalan dengan meningkatnya populasi penduduk. Di lain pihak, pertanian juga dihadapkan pada berkurangnya kesuburan tanah secara umum, salah satunya akibat dampak dari pemakaian pupuk kimia yang berlebihan dalam jangk awaktu yang panjang, selain itu juga akibat kurangnya pasokan bahan organik yang dikembalikan ke tanah. Akibatnya produksi cenderung menurun, dan kebutuhan akan pupuk kimia cenderung meningkat. Padahal tidak semua pupuk yang diberikan ke tanaman dapat diserap secara optimal oleh tanaman. Terutama pada lahan yang kondisi tanahnya marginal, kurang bahan organik, dan miskin akan mikrobiota tanah.

 

Mempertimbangkan semua efek merugikan dari input pupuk kimia, maka strategia lternatif dalam meningkatkan kesuburan tanah adalah hal yang sangat penting. Input bahan organic dan pertanian organik, secara keseluruhan, terbukti sebagai strategi yang paling efektif. Mikroorganisme merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, produksi, dan kesuburan tanah. Hal tersebut didapat dengan mengeksploitasi interaksi antara tanaman dan mikroorganisme rizosfer (Pthania et al., 2020). Mikroorganisme pada daerah rizosfer banyak berperan dalam penyerapan unsure hara oleh tanaman. Sejumlah bakteri pada daerah perakaran tersebut (rhizobacteria) dilaporkan berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan ketahanan tanaman. Bakteri-bakteri tersebut dikenal sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Dilaporkan dalam banyak penelitian bahwa Pseudomonas sp., Salmonella liquefaciens, danBacillus sp., mampu menghasilkan hormone pertumbuhan tanaman. Bakteri lain seperti Azotobactersp. Dan Azospirillum sp. Dilaporkan dapat memfiksasi N2 dari udara. Aktivitas PGPR member keuntungan bagi pertumbuhan tanaman karena kemampuannya menyediakan dan memobilisasi atau memfasilitasi penyerapan berbagai unsure hara dalam tanah serta mensintesis dan mengubah konsentrasi berbagai fitohormon pemacu tumbuh serta dapat menekan aktivitas pathogen dengan cara menghasilkan berbagai senyawa atau metabolit seperti antibiotic dan siderophore (Rosyidahet al., 2014). Regoet al., (2018) melaporkan respon positif aplikasi rizobakteria P. fluorescens BRM-32111 and B. pyrrocinia BRM-32113 pada padi dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan rizobakteria tersebut toleransi tanaman padi terhadap stress abiotic alelokimia.

 

PGPR dapat dibuat secara sederhana. Bahan yang digunakan sebagai biang berupa akar bamboo atau putrid malu. Caranya, yaitu: sebanyak 100 gr akar bamboo atau putri malu direndam selama 2 sampai 4 hari dengan 1 liter air masak yang telah didinginkan. Kemudian disiapkan bahan nutrisinya, berupa 400 gr gulapasir, 200 gr terasi, 1 kg dedak halus, penyedap rasa 1 sachet, dan 10 liter air. Selanjutnya semua bahan nutrisi tersebut dicampur, direbus hingga mendidih selama 15-20 menit. Bahan nutrisi tersebut didiamkan hingga dingin. Selanjutnya cairan nutrisi tersebut diperas dengan kain, lalu dicampurkan dengan rendaman air akar bamboo atau putrid malu yang telah dipersiapkan sebelumnya. Campuran tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah tertutup, dan difermentasi selama minimal 7 hari. Setiap hari, tutupnya dibuka sebentar dan campuran tersebut diaduk-aduk.

 

Adapun cara aplikasi PGPR adalah sebagai berikut:

 

  • PGPR Untuk perlakuan benih. Benih yang dibeli dari took dan diduga mengandung pestisida cuci dulu sampai bersih hingga 3 – 4 kali. Rendam benih dalam larutan PGPR dengan konsentrasi 10 ml per liter air. Kemudian keringanginkan di tempat yang teduh sebelum dilakukan penanaman.
  • PGPR Untuk perlakuan bibit. Jika untuk perlakuan bibit dan stek atau biakan vegetative lain tinggal direndam beberapa saat saja lalu langsung ditanam. Konsentrasi yang diperlukan adalah 10 ml per liter air.
  • PGPR Untuk perlakuan pada tanaman. Buat PGPR dengan konsentrasi 5 ml per liter air. Untuk aplikasi pada tanaman semusim (cabe, terong, timun dan  lain-lain) siramkan sekitar 300 ml larutan tadi kedaerah perakaran tiap 2 minggu sekali. Jika untuk tanaman tahunan jumlah larutan yang digunakan dapat diperkirakan sendiri sesuai dengan umur dan jenis tanaman, sebagai ukuran adalah siram daerah perakaran sampai basah.
  • Untuk tanaman keras, dikocorkan sebanyak 10 ml/liter air tiap satu bulan sekali.
  • Untuk tanaman padi, digunakan sebanyak 5 ml/liter air pada 3 hari sebelum tanam, 15 hst, 30 hst, dan 45 hst dengan cara disemprotkan dengan volume semprot rendah (boros/tidak berkabut).
  • Aplikasi dianjurkan pada sore hari, atau pada pagi hari sebelum pukul 9.00 WIB.

Sumber:

Pathania, P., A. Rajita, P.C. Singh, and R. Bhatia. 2020. Role of Plant Growth Promoting Bacteria in Sustainable Agriculture. Biocatalysis and Agricultural Biotechnology.30 (2020) 101842.

Rêgo, M.C.F., A.F. Cardoso, T.C. Ferreira, M.C.C.Filippi, T.F.V. Batista, R.G.Viana, G.B. Silva. 2018. The Role of Rhizobacteria in Rice Plants: Growth and Mitigation of Toxicity. Journal of Integrative Agriculture 2018, 17(12): 2636–2647.

Rosyidah A, TatikWardiyati and M.DawamMagfur. 2014. Induced Resistance of Potato (SolanumtuberosumL.) to RalstoniasolanacearumDisease with Combination of Several Biocontrol Microbes. Journal of Biology, Agriculture and Healthcare Vol.4/ No.2.

Berbagaisumberlainnya.

(Joni Karman, S.Si., MP./Peneliti BPTP Balitbangtan Sumsel)