Info Teknologi

BUDIDAYA KRISAN

Administrator | Jumat, 13 Mei 2016 - 15:49:41 WIB | dibaca: 9518 pembaca

Buddaya Krisan BPTP Sumsel

Tanaman krisan dapat tumbuh baik pada ketinggian tempat 700 m – 1200 m dpl dengan suhu udara antara 20◦C – 26◦C untuk pertumbuhan dan antara 16◦C – 18◦C untuk pembungaan dengan kelembaban udara antara 70% – 80%. Untuk pertumbuhan akar pada saat awal pertumbuhan diperlukan kelembaban 90% – 95%. Tingkat keasaman tanah Ph 6,2 – 6,7 dan EC 0,8 Ms/cm-1 Ms/cm. Tanaman krisan merupakan tanaman hari pendek (short day plant) yaitu tanaman akan segera berbunga pada hari panjang hari (jumlah jam terangnya) kurang dari 14,5 jam. Di Indonesia panjang hari dan panjang malam hampir sama yaitu 12 jam, oleh karena itu diperlukan penambahan cahaya dengan tujuan memperpanjang fase vegetatif, agar bagian vegetatif tanaman dapat tumbuh kuat dan dapat mengatur ketingiian tanaman.
Budidaya Krisan
1 Penyiapan rumah lindung
Tujuan membuat rumah lindung adalah untuk melindungi tanaman dari keadaan cuaca, lingkungan dan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan kualitas bunga yang dihasilkan. Rumah lindung dibuat ukuran 100 m2 memanjang sesuai keadaan tanah, tinggi 4 m dari permukaan tanah. Rumah lindung menggunakan rangka bambu, atapnya menggunakan plastik UV, sedangkan bagian samping ditutup dengan screen halus berdiameter 1 mm.
2. Penyiapan sarana dalam rumah lindung
Menyiapkan bedengan (tinggi 25 cm dan lebar 1 m) memanjang searah panjang rumah lindung.
1. Dibuat jaring penegak tanaman dengan lubang anyaman sesuai jarak tanam yang digunakan
2. Menyiapkan bak air lengkap dengan sarana penunjang lainnya seperti slang palstik, ember dsb untuk memudahkan mengairi tanaman krisan.
3. Memasang instalasi listrik, lampu dan pengatur waktu atau timer (bila memungkinkan) untuk pemberian cahaya tambahan bagi tanaman, dengan jarak titik lampu 2 mx 2 m dan tinggi 1,5 m dari atas permukaan bedengan. Intensitas cahaya tambahan diusahakan sekitar 70-100 lux selama sekitar 4 jam pada malam hari.
4. Menyediakan peralatan pemeliharaan seperti gunting stek, cangkul, embrat dsb untuk memudahkan proses pemeliharaan tanaman dan panen.
3. Persiapan tanam
Tanah diolah secara sempurna sedalam sekitar 30 cm menggunakan cangkul, dan gulma dibuang ke luar rumah lindung.
1. Tanah dikering anginkan selama 2 minggu, pada periode ini tanah tidak boleh diberi air atau terbasahi.
2. Dibuat bedengan memanjang sesuai panjang rumah lindung, tanah diolah ringan dengan mencampur pupuk kandang (sudah matang) sebanyak 3 kg/m2. Pada saat yang bersamaan, bedengan diberi pupuk dasar berupa 20 g Urea/m2, 30 g SP-36/m2, dan 35 g KCl/m2 , dicampur secara merata. Untuk tanah dengan kemasaman tinggi, perlu ditambahkan kapur.
4. Tanam
Sehari sebelum tanam, bedengan diberi air sampai kapasitas lapang.
1. Dibuat lubang tanam dengan bambu atau penugal, jarak tanam 12,5 cm x 12,5 cm.
2. Memasang jaring penegak tanaman yang dibuat dari anyaman plastik, untuk membantu agar tanaman nantinya dapat tumbuh tegak. Lebar anyaman disesuaikan dengan jarak tanam.
3. Bibit berupa stek berakar ditanam pada masing-masing lubang tanam (kerapakan 64 tanaman/m2). Setelah tanam, bedengan diberi air secukupnya agar tanaman tidak mati.
5. Sulam
Satu minggu setelah tanam, bibit yang mati atau tumbuh tidak normal diganti bibit baru dengan umur sama.
6. Pemeliharaan
Seiring dengan pertumbuhan tanaman, jaring penegak tanaman dinaikkan perlahan-lahan agar arah pertumbuhan tanaman tetap tegak lurus (tidak miring atau roboh). Jaring penegak ini dipertahankan hingga panen. Setelah panen, jaring penegak disimpan untuk digunakan pada tanam berikutnya.

1. Selama 7 hari setelah tanam, tanaman diairi setiap hari hingga membasahi seluruh bedengan. Setelah 1 minggu dari tanam, tanaman diairi empat kali seminggu. Pemberian air biasa disiram, menggunakan metode springkle, trikle atau drip.
2. Pemberian hari panjang dengan cara memberi tambahan cahaya lampu pada malam hari, dimaksudkan untuk mempertahankan fase vegetatif dalam jangka waktu tertentu guna memperoleh tinggi tanaman yang dikehendaki sebelum tanaman dibungakan. Intensitas cahaya lampu 70-100 lux atau setara dengan intensitas cahaya lampu pijar 75-100 watt atau TL 40 watt. Pemberian cahaya lampu menggunakan metode nite-break (siklik) dengan pola 10-20×6 (10 menit lampu menyala diikuiti dengan 20 menit lampu dimatikan dalam satu siklus/6 kali) selama 4 jam dari jam 22.00-02.00 setiap hari. Setelah tanaman umur 30 hari, pemberian cahaya tambahan dihentikan.
3. Pupuk susulan diberikan saat tanaman umur 2 minggu dan 40 hari dengan pupuk majemuk NPK takaran 50 g/m2. Untuk menunjang pertumbuhannya, tanaman juga perlu tambahan pupuk cair mulai awal pertumbuhan tanam hingga menjelang panen, takaran sesuai anjuran dengan selang waktu 2 kali seminggu.
4. Setiap 2 minggu dilakukan pembersihan gulma dengan cara mencabutnya menggunakan tangan. Apabila tajuk tanaman sudah menutup tanah, frekuensi menyiang dikurangi sesuai kebutuhan. Pembersihan rumput juga perlu dilakukan di areal di luar rumah lindung.
7. Pengendaian hama dan penyakit
Hama yang merusak krisan antara lain pengorok daun (Liriomyza sp) dan trip (Thrip parvispinus), sedangkan penyakitnya adalah karat daun (Puccinia horiana) dan busuk akar-pangkal batang (Pythium sp). Hama pengorok daun dapat dikendalikan dengan memotong dan membuang daun terserang, tanam varietas tahan, insektisida berbahan aktif abamektin, amitraz, klorfenapir, atau siromazin. Hama trip, dapat dikendalikan dengan cara memotong dan membuang daun/bunga terserang, atau menyemprot tanaman menggunakan insektisida berbahan aktif merkaptodimetur.
1. Penyakit karat daun , dapat dikendalikan dengan menanam varietas tahan, memotong dan membuang daun sakit, menggunakan jarak tanam lebar, atau menggunakan fungisida berbahan aktif karbendazim. Penyakit busuk akar-pangkal batang menyebabkan tanaman layu dan mati, dapat dikendalikan dengan menggunakan pupuk kandang yang sudah jadi, menanam stek sehat, atau mencabut tanaman sakit lalu membuangnya ke luar rumah lindung, dan bekas cabutan diberi fungisida. sedangkan penyakitnya adalah karat daun (Puccinia horiana) dan busuk akar-pangkal batang (Pythium sp). Penyakitt karat daun terjadi pada daun, dapat dikendalikan dengan menanam varietas tahan, memotong dan membuang daun sakit, menggunakan jarak tanam lebar, atau menggunakan fungisida berbahan aktif karbendazim. 7. Panen Bila bunga pada seluruh pertanaman telah 80% mekar sempurna, tanaman bunga krisan bisa dipanen, dengan memotong batang krisan setinggi 10 cm dari permukaan bedengan menggunakan pisau atau gunting yang tajam. Panen sebaiknya pada pagi hari jam 06.00-08.00.

TEKNOLOGI PASCA PANEN BUNGA KRISAN
1. Sortasi dan Grading
Sortasi bertujuan untuk memisahkan bunga berdasarkan kriteria bunga yang segar (mulus) dan yang rusak atau cacat. Selanjutnya dilakukan pemotongan pangkal tangkai bunga sehingga panjangnya memenuhi standar, tiga daun terbawah biasanya dibuang. Grading bertujuan untuk mengkelas-kelaskan bunga sesuai grade atau tingkatan mutu. Grade untuk bunga krisan potong yang mekar penuh Label warna Biru Merah Hijau Diameter bunga min (inchi) 5 1/2 4 3/4 4 Panjang tangkai min (inchi) 30 30 24
2. Pulsing
Pulsing adalah perendaman dalam suatu larutan dengan nutrisi dan konsentrasi yang tinggi secepat mungkin setelah bunga dipotong dari tangkainya dalam waktu relatif singkat. Larutan pulsing untuk beberapa varietas bunga krisan potong. Bunga krisan potong adalah merupakan bagian tanaman yang masih hidup, sehingga masih melakukan respirasi. Varietas Jenis Formula C. frutesens M.Daisy AgNO3 (ppm) Hidrohy Quinoli E Sulfat (ppm) Sukro Lama C. frutesens M.Daisy 25 – 0,5 Overnit C. morifoluma Standar 1000 – – 10”-10’ – 200 2-3 D. grandiflora Spray & standar 25 200 5 16 jam, T 21◦ C
3. Pengemasan
Pengemasan bertujuan untuk memudahkan transportasi dan melindungi bunga dari kerusakan yang disebabkan oleh perubahan suhu dan kontaminasi oleh mikroorganisme. Ukuran bunga krisan potong diikat sebanyak 10 tangkai per ikat.
4. Pengangkutan
Untuk transportasi jarak dekat bisa dilakukan pengemasan dengan cara basah, yaitu dengan mencelupkan pangkal tangkai bunga krisan potong kedalam air atau larutan holding. Bisa juga dilakukan dengan membalut tangkai bunga potong dengan kapas atau karet busa yang telah dibasahi dengan air. Cara lain untuk pengangkutan jarak dekat adalah dengan merendam tangkai bunga krisan potong yang telah diikat dalam ember yang berisi air.
5. Penyimpanan
Bunga krisan potong yang masih kuncup yang dibungkus kantong plastik dan dikemas dalam karton tahan simpan sampai dua minggu pada suhu 32◦ F dalam kondisi kering sedangkan penyimpanan pada suhu 10◦ C pada komposis atmosfir 0,5% CO2 dan 10-15% O2, tahan simpan 7 hari.
6. Holding
No Larutan holding Referens 1 200 ppm HQC+2% sukrosa Reid dan Lukaszewski, 1998 2 200 ppm HQC + 3 % sukrosa Marousky, 1969 3 0,25-0,5 l seven up + 0,25-0,5 l air + 0,5 sendok bahan pemutih Murtiningsih dan Sutater, 1995 4 1 l air + 2 sendok sari lemon + 0,5 sendok bahan pemutih Murtiningsih dan Sutater, 1995
PENGAWETAN BUNGA KRISAN POTONG
Untuk meningkatnya kesegaran yang leih lama pada bunga krisan potong selain dengan pulsing juga biasa dengan memberikan pengawet baik berupa formula larutan maupun tablet. Formulasi larutan pengawet biasanya diramu terlebih dahulu ketika akan digunakan, karena larutan tidak tahan lama. Sampai saat ini larutan pengawet berbentuk padat dan kering (tablet) mempunyai beberapa kelebihan, yaitu tahan lama, lebih stabil, dan lebih mudah penyimpanannya.