Berita Pertanian

SURVEI HARGA DAN MUTU GABAH DI TINGKAT PETANI PADA SENTRA PRODUKSI PADI DI SUMATERA SELATAN

Administrator | Rabu, 07 Februari 2018 - 14:07:19 WIB | dibaca: 52 pembaca

Kegiatan panen terus berlanjut di Provinsi Sumatera Selatan bahkan akan terus berlangsung sampai hari ini. Pelaksanaan panen yang berlangsung hampir tiap hari tentunya telah menghasilkan total produksi yang berlimpah, baik dalam bentuk gabah maupun beras.

 

Tidak hanya kuantitas produksi yang perlu ditingkatkan, kualitas/mutu panen yang dihasilkan juga perlu diperhatikan sehingga hasil produksi yang diperoleh akan bermutu tinggi.  Untuk itu,  pada tanggal 5 s/d. 6 Februari 2018 Tim UPSUS BPTP Balitbangtan Sumsel yang dipimpin langsung oleh Kepala BPTP Balitbangtan Sumsel Dr. Priatna Samita, MSi bersama-sama melakukan survei lapangan untuk memastikan harga dan mutu gabah di tingkat petani pada sentra produksi padi di Sumatera Selatan

 

Survei dilakukan di dua lokasi sentra produksi padi yakni lahan pasang surut dan lahan irigasi.  Survei di lahan pasang surut dilakukan di Kecamatan Muara Telang pada empat lokasi berbeda yakni Desa Telang Rejo, Desa Mekar Sari, Desa Upang Ceria dan Desa Sumber Mulyo. Sedangkan lokasi sentra padi irigasi dilakukan di Desa Srikaton, Kecamatan Buay Madang Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. 

 

Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja karena pada saat survei sedang dilangsungkan panen serta didasarkan pula pada perbedaan harga gabah yang dijual petani. Panen dilakukan menggunakan combine harvester (lahan pasang surut) dan mini combine harvester (lahan irigasi) yang keuntungannya antara lain gabah yang dihasilkan lebih bersih dari material kotoran (impurities) dan gabah hampa.

 

Metode Pengamatan dilakukan dengan pengambilan sampel Gabah Kering Panen (GKP) pada setiap lokasi sentra dengan berat rata-rata 100 kg GKP untuk dilakukan pengukuran terhadap persentase kadar airnya.  Selanjutnya, gabah tersebut dilakukan pengeringan dengan menggunakan mesin pengering selama + 6 jam untuk mencapai kadar air giling (GKG).  Setelah proses pengeringan, dilakukan penimbangan pada gabah kering yang siap untuk digiling dan pengukuran terhadap kadar air gabah kering giling. Sebelum digiling, gabah yang sudah kering diistirahatkan selama sekitar satu malam (6-8 jam). Proses pengistirahatan (tempering) dilakukan untuk mengurangi stress pada bahan yang diakibatkan oleh pemanasan selama proses pengeringan dan untuk mempertahankan mutu beras giling khususnya persentase jumlah beras kepala.  Penggilingan dilakukan pada penggilingan padi kecil (PPK) dengan tipe mesin penggiling padi double phase. Setiap karung gabah yang sudah dikeringkan dilakukan penggilingan untuk mengetahui rendemen dan mutu beras yang dihasilkan, serta dilakukan pengukuran terhadap kadar air beras. Data yang diperoleh dianalisis berdasarkan rata-rata dan korelasi antar peubah pengamatan.

 

Hasil survei menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar air padi saat dipanen (KA GKP), akan menghasilkan berat gabah yang lebih rendah setelah dikeringkan (GKG).  Hal ini disebabkan selama proses pengeringan dilakukan akan terjadi penurunan berat gabah karena pengurangan kadar air dalam gabah dan juga terjadinya kehilangan gabah secara fisik seperti tercecer.  Dalam proses pengeringan jumlah air yang menguap dan hilang lebih banyak pada GKP dengan KA tinggi, dibandingkan dengan jumlah air yang hilang pada GKP dengan KA rendah.

 

Harga jual gabah (GKP) sangat dipengaruhi oleh kadar air padi saat panen (KA GKP).  Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa harga jual GKP dan KA GKP memiliki hubungan korelasi sangat kuat (koefisien korelasi -0.959). Semakin tinggi kadar air GKP menyebabkan harga jual semakin rendah. Kondisi lainnya juga ditentukan oleh kadar air GKG (koefisien korelasi -0.605). Hal ini dikarenakan susut berat GKP menjadi GKG akan lebih rendah pada KA GKP rendah dibandingkan dengan KA GKP tinggi.   

 

Berat beras yang dihasilkan dipengaruhi oleh KA GKG, KA beras dan rendemen giling dengan koefisien korelasi masing-masing 0.811, 0.974 dan 0.877. Artinya semakin tinggi KA GKG, KA beras dan rendemen giling menyebabkan semakin tinggi berat beras yang dihasilkan, namun demikian mutu beras yang dihasilkan belum tentu baik. Berdasarkan Inpres RI No. 3 Tahun 2012, kadar air maksimum GKG untuk penggilingan sebesar 14%. Penggilingan gabah dengan kadar air >14% dapat menurunkan mutu beras giling, karena dapat menyebabkan beras menjadi pecah saat proses penggilingan.

 

Tim UPSUS BPTP Balitbangtan Sumsel menyimpulkan bahwa harga jual gabah petani ditentukan oleh kualitas gabah yang dihasilkan oleh petani, khususnya kadar air pada GKP.  Disamping itu harga jual gabah ditentukan dari lokasi panen, dimana semakin jauh lokasi panen dari ibukota kabupaten, total biaya akan semakin tinggi sehingga harga jual gabah semakin rendah. Hal ini disebabkan karena umumnya pembeli akan mengambil langsung gabah yang akan dibeli dari sawah sesaat setelah proses pemanenan dilakukan. (Tim Upsus BPTP Balitbangtan Sumsel, AES)










Komentar Via Website : 7
Walatra Gamat Emas kapsule 100% Alami
16 Februari 2018 - 14:44:31 WIB
Terimakasih banyak atas sajian informasi pada siang hari ini ? https://goo.gl/tBXA2J | https://goo.gl/s0JsZg | https://goo.gl/UQm0NF | https://goo.gl/ypv7l3 | https://goo.gl/JTngeY
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)