Info Teknologi

Optimalkan Lahan Pertanian Melalui Sistem Tanam Tumpangsari

Administrator | Kamis, 04 Oktober 2018 - 15:50:50 WIB | dibaca: 96 pembaca

        Belakangan ini, keterbatasan lahan untuk areal pertanian menjadi suatu masalah penting dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan. Alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian sungguh tidak dapat terelakkan lagi seiring bertambahnya jumlah penduduk di muka bumi ini. Sangat lumrah kita jumpai, hamparan lahan yang sebelumnya hijau dengan tanaman beralih fungsi menjadi pemukiman dan pertokoan. Di sisi lain, pesatnya pengembangan tanaman perkebunan, memaksa sawah menjadi semakin berkurang. Untuk itulah, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengoptimalkan fungsi lahan sehingga bisa berproduksi maksimal melalui sistem tanam tumpangsari.

Tumpangsari atau dikenal juga dengan polikultur (intercropping) adalah praktik budidaya dua atau lebih tanaman dalam satu tempat dan satu waktu tertentu. Dalam sistem ini, tanaman tidak mesti ditanam maupun dipanen pada tanggal yang sama bersamaan, tetapi secara simultan saling berpengaruh terhadap periode pertumbuhannya. Tumpangsari biasanya dilakukan pada jenis atau famili tanaman berbeda seperti tumpangsari jagung-kedelai; padi-kedelai, karet-tanaman kacang-kacangan, tapi tidak menutup kemungkinan juga dilakukan pada jenis tanaman yang hanya berbeda varietas atau kultivarnya, misalnya padi varietas Inpari 1-varietas Ciherang.

Ada beberapa pola dalam sistem tanam tumpangsari, seperti:

·      Tumpangsari campuran (mixed cropping) yakni menanam dua jenis tanaman atau lebih secara bersamaan dengan cara diacak (tidak teratur dalam barisan).

·     Tumpangsari seumur yakni menanam dua jenis tanaman atau lebih yang seumur dalam satu barisan.

·         Tanaman beruntun, yakni apabila tanaman kedua ditanam setelah tanaman pertama dipanen.

·     Tanaman sisipan (relay intercropping) yakni penyisipan satu jenis tanaman ketika tanaman pertama hampir panen, pola seperti ini sangat sering kita jumpai terutama dalam budidaya sayuran. Misalnya, menanam kacang panjang/buncis setelah cabe hampir habis masa panennya.

Lalu apa saja manfaat dari tumpangsari. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari memiliki berbagai manfaat, di antaranya:

·    Efisiensi dalam penggunaan input seperti sumberdaya manusia (tenaga kerja), pupuk, input sumberdaya alam (cahaya, air, dsb).

·      Meningkatkan hasil tanaman, disebabkan karena sumberdaya seperti cahaya, air, hara secara utuh diserap dan dikonversikan untuk pembentukan biomass tanaman.

·     Mengurangi risiko kegagalan pertanaman. Dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman, memberikan peluang keberhasilan petani dalam membudidayakan tanaman.

·     Konservasi tanah, dimana tumpangsari merupakan cara praktis untuk menekan erosi tanah melalui penekanan aliran permukaan tanah.

·         Meningkatkan kesuburan tanah

·         Menekan insidensi serangan hama, penyakit serta pertumbuhan gulma pada tanaman.

·     Meningkatkan kenakearagaman hayati pada ekosistem pertanaman, hal ini dapat berdampak positif terhadap penekanan serangan OPT secara alamiah.

Namun demikian, beberapa permasalahan juga mungkin dapat muncul dalam penerapan sistem tumpangsari, seperti misalnya a) kesulitan dalam menerapkan mekanisasi terutama dalam hamparan yang luas, b) lesuiltan dalam budidaya terutama jenis tanaman yang berbeda dalam hal pemupukan, penyemprotan pestisida dsb, c) permasalahan dalam kombinasi tanaman (harus dipilih jenis tanaman yang bersifat sinergisme), apabila tidak dilakukan maka justru akan berdampak sebaliknya.

(Syahri, SP/Peneliti BPTP Balitbangtan Sumsel)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)